Thursday, December 07, 2006

Ternyata aku lebih bijaksana

Kejadian hari ini sungguh menyebalkan,,, uh
Ada seorang berteriak-teriak di depanku,

padahal jarak kami hanya satu meter!!!

Yang jelas aku tidak terima diperlakukan seperti itu!!! Penghargaanku kepadanya hilang 100%. Orangtuaku yang paling kuhormati saja tidak pernah melakukan itu padaku. Lantas siapakah dia??? Yang berani berteriak dan membuatku malu. Apakah dia punya hak untuk melakukan itu???

Jadi teringat cerita ini...

Suatu hari sang guru berdialog dengan murid-muridnya,

Guru :
"Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?"

Murid :
"Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak."

Guru :
"Tapi... lawan bicaranya justru berada disampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan.

Guru :
"Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi. Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian? Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."

Guru : "Ketika anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu anda."

Kata-kata terakhir guru tadi membenarkan tindakanku waktu itu. Aku yang merasa tidak punya salah hanya diam membisu dan akhirnya pergi, karena pembelaankupun diacuhkannya. Ternyata yang kulakukan lebih bijaksana :)

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home