Saturday, December 16, 2006

Cuti, Bukan Resign

Yach... beginilah hidup, tidak ada yang pernah tau. Naik, turun, jatuh, berdiri, hingga akhirnya berlari dan terbang. Bahagia jika akhirnya aku dapat terbang. Hore!!!

Masih tergambar persis kejadian sore itu, tepatnya Rabu 13 Desember, ketika temans RCD memberikan kejutan dua cake untuk merayakan ulang tahunku yang sudah 10 hari lalu.

Aku pergi mengantarkan potongan kue ke ruang Bpk Kadiv, Mas Iwan sambil membawa surat resign yang sudah kubuat sejak dua hari yang lalu. Beliau memberikan selamat dan ucapan do’a.

Kemudian kusodorkan surat itu, beliau kembali menanyakan alasan serta rencanaku. Setelah kuberikan penjelasan yang sama, akhirnya beliau hanya memberiku izin pulang, cuti, menemui cintaku itu, tanpa mau memberikan tanda tangannya untuk kuresign. Beliau berjanji kembali untuk melakukan yang terbaik. Semoga saja akan terwujud.

Sekedar mengingatkan kejadian awal Oktober lalu, ketika Mama jatuh sakit untuk yang kesekian kalinya, ayah memintaku pulang dan menetap di Surabaya. Permintaan itu bukanlah yang pertama, tetapi sungguh kata-katanya membuatku akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tempat ini.

Akhirnya kusampaikan maksud itu ke bos Agus, dan beliau mengantarkanku ke Bpk Kadiv, Mas Iwan. Waktu itu beliau menawarkan agar aku pindah ke Surabaya, tetapi tidak bisa sesuai keinginanku (November), beliau menjanjikan Desember. Sepanjang waktu penantian itu aku harus belajar. Itulah makanya aku belajar reporter, camera, PA, dll. Mengenal dunia baru selain RCD.

Setelah bulan Desember itu datang, sang cinta selalu menanyakan kepulanganku. Sementara disini tak pernah jelas kapan saat itu datang. Hingga akhirnya membuatku mengambil keputusan untuk pergi...

Sekali lagi, sebagai manusia kita hanya berhak berusaha dan berdo’a. Apapun hasilnya, apapun yang terjadi nanti biar saja. Itu pasti adalah yang tebaik :)

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home