Aku Pulang
Rencanaku untuk pulang ke tanah kelahiranku, menemui cinta yang sudah empat bulan ditinggalkan rupanya akan segera terwujud. Esok sore, kereta kan membawaku kesana. Sudah terbayang semua kebahagiaan itu hingga mata ini sulit terpejam.
Sesampai disana, kan kupeluk dan kudekap mereka, manusia penuh cinta dan kasih sayang, yang sudah mengharapkan kedatanganku sejak Oktober lalu.
Ma,,,izinkan aku melakukan semuanya, karena sudah lama ini aku tak pernah melakukan apapun untukmu. Semoga ada banyak waktu untuk itu. Selalu bisa membuatmu bahagia...
Cuti, Bukan Resign
Yach... beginilah hidup, tidak ada yang pernah tau. Naik, turun, jatuh, berdiri, hingga akhirnya berlari dan terbang. Bahagia jika akhirnya aku dapat terbang. Hore!!!
Masih tergambar persis kejadian sore itu, tepatnya Rabu 13 Desember, ketika temans RCD memberikan kejutan dua cake untuk merayakan ulang tahunku yang sudah 10 hari lalu.
Aku pergi mengantarkan potongan kue ke ruang Bpk Kadiv, Mas Iwan sambil membawa surat resign yang sudah kubuat sejak dua hari yang lalu. Beliau memberikan selamat dan ucapan do’a.
Kemudian kusodorkan surat itu, beliau kembali menanyakan alasan serta rencanaku. Setelah kuberikan penjelasan yang sama, akhirnya beliau hanya memberiku izin pulang, cuti, menemui cintaku itu, tanpa mau memberikan tanda tangannya untuk kuresign. Beliau berjanji kembali untuk melakukan yang terbaik. Semoga saja akan terwujud.
Sekedar mengingatkan kejadian awal Oktober lalu, ketika Mama jatuh sakit untuk yang kesekian kalinya, ayah memintaku pulang dan menetap di Surabaya. Permintaan itu bukanlah yang pertama, tetapi sungguh kata-katanya membuatku akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tempat ini.
Akhirnya kusampaikan maksud itu ke bos Agus, dan beliau mengantarkanku ke Bpk Kadiv, Mas Iwan. Waktu itu beliau menawarkan agar aku pindah ke Surabaya, tetapi tidak bisa sesuai keinginanku (November), beliau menjanjikan Desember. Sepanjang waktu penantian itu aku harus belajar. Itulah makanya aku belajar reporter, camera, PA, dll. Mengenal dunia baru selain RCD.
Setelah bulan Desember itu datang, sang cinta selalu menanyakan kepulanganku. Sementara disini tak pernah jelas kapan saat itu datang. Hingga akhirnya membuatku mengambil keputusan untuk pergi...
Sekali lagi, sebagai manusia kita hanya berhak berusaha dan berdo’a. Apapun hasilnya, apapun yang terjadi nanti biar saja. Itu pasti adalah yang tebaik :)
RCD
Sembilan bulan yang lalu, ketika diterima sebagai salah satu siswa BDP (Broadcasting Development Program) VI TRANS rasanya bangga, senang, semuanya campur jadi satu, terlebih ketika ditempatkan di divisi News. Waktu itu aku adalah salah satu dari 77 bdp6_news yang terdiri dari 40 orang(reporter & campers), 33 orang (PA & researcher) dan 6 orang RCD (Research Creative Development).
Ngomong-ngomong RCD... tau ga sich apa RCD itu ? RCD itu adalah salah satu bagian penting dari news, yang bertugas melakukan analisa kuantitatif dan kualitatif terhadap sebuah program. Data kuantitatifnya berasal dari AGB Nielsen (lembaga media riset Internasional) sedangkan data kualitatifnya berasal dari pengamatan setiap harinya. Dari analisa itu diperoleh kesimpulan dan yang paling penting adalah rekomendasi, agar sebuah program tetap baik dan lebih baik.
Data ini hadir dilantai tiga setiap Rabu. Yang paling seru tuh, para newser berdiri di depan ruang RCD, seperti orang antri tiket pas lebaran, tapi mereka ga mau antri, kebayang ga gimana suasananya... seru! Mereka pengen melihat hasil kerja mereka yang berwujud rating dan share.
Di RCD inilah aku ditempatkan, bersama 5 temans Lilik, Lisa, mba Irene, Aldi, dan Ishak. Begitu kami berenam masuk, keluarga RCD jadi 19 orang dan jadi tambah rame pastinya. Para crew lama begitu ’’menerima’’ kami, sabar mengajari kami yang waktu itu punya ketertarikan dan semangat tinggi. cie.. Makasih ya.. kalian adalah guru-guru yang sangat baik:)
Program pertama yang dipercayakan padaku adalah Reportase Pagi, waktu itu masih tandem sama Neng hingga beberapa bulan sampe akhirnya dilepas sendiri dan Neng ke Reportase Sore (hiks,,, Neng tega ninggalin Heny sendiri).
Terasa banget hingga 7 bulan ditahan (hehehe) di Reportase Pagi. Bangun tidur, langsung nonton tipi durasi 100 menit plus, dicatet lagi, pasti tahulah gimana rasanya. Untunglah wajah presenter-presenternya fresh (yang mana yaaa:p) jadi menyenangkan. Dan yang pasti jadi up-date berita, ga telat informasi dech (dari berbagai station TV bo!).
Setelah 7 bulan itu akhirnya di rolling ke Cerita Pagi. Walau pun dah pindah program tapi masih pagi pagi juga. Tapi gak papalah,,, biar ada variasi gitu. Jadi makin tau program lain. Menambah ilmu, pangalaman, dan tantangan tentunya. Tantangannya adalah menjadikan Cerita Pagi bonus (meneruskan cita-cita Desan). Tapi sudah lima minggu berjalan aku belum bisa mewujudkan. Seandainya bisa melakukan ide tentang Cerita Pagi seperti yang ada dalam pikiranku,,,
Lepas dari tanggung jawabku di RCD, aku diizinkan untuk ikut tandem liputan, belajar jadi reporter sampai akhirnya ditugaskan sendiri dan sempat PTC huehehe. Sempat juga jadi PA (Production Assistant) Reportase Pagi, yang pernah ditinggal master PA (mba Agnes), berdua ma Nunuy sampe ngerasa takut, pusing dan ihhh serem banget dech sampe Mas Divi sang asprod, ikut-ikutan sibuk (maafkan ya mas). Trus sempat belajar dubbing ma Mba Seila Siregar, katanya suaraku cenderung sedih, kurang power dech. Trus pernah ikut kelas kamera sama Mas Jangkung, jadi tau WB, framming, sequence, kontinuitas, gambar yang bercerita, pokoknya banyak dech. Banyak ilmu yang diperoleh disini.
Kesempatan belajar banyak hal itu tentu tak lepas dari kebijakan producer yang care, Mas Agus (bos RCD saat ini) yang memberi izin belajar asal tetap bisa bertanggungjawab dengan semua tugas di RCD. Makasih ya Bos!:)
Sepanjang sembilan bulan ini ternyata sudah cukup banyak yang kuperoleh disini, ilmu, persaudaraan, dan banyak hal. Makasih juga buat bos mas Teguh (yang sekarang jadi artisnya Kupas Tuntas TRANS7) mba Vey, mas Ferry, Neng, Rieka, Pok Tina, DiaH, Lili+K, mba Irene, Desan, uni Rina, Pink, Ika dan semua temans yang tidak dapat disebutkan satu per satu, Thanks guys :)
Apa ya...
Di masa lalu, kegagalan demi kegagalan pernah sangat rekat dengan diri ini. Pernah juga beberapa kesuksesan menjadi bagian kehidupan, gerimis hati ini saat menjalaninya. Ratusan jalan berlubang pernah terlalui, beberapa kali terjerembab di dalamnya. Jalan gelap begitu sering harus ditapaki, tak jarang menemui jalan buntu. Tak terbilang peluh saat mendaki, sementara senang tak terkira ketika mendapati jalan menurun. Yang membuat diri tak percaya, sungguh semuanya pernah dilalui.
Di masa silam, ada banyak sahabat baru berdatangan dan mengiringi hari-hari penuh kehangatan. Tak berbeda masanya, beberapa sahabat pernah pula meninggalkan diri, menjauh dan tak lagi pernah tahu gerangan dirinya. Pilu ketika harus berpisah, haru saat berjumpa kembali. Begitu banyak cinta bersemi, meski di waktu yang sama ada pula yang menabur benci pada diri.
Ketika masih sama-sama di bangku pendidikan, bersama sahabat mengukir mimpi. Melukis masa depan, membayangkan akan menjadi apa diri ini kelak, usia berapa menikah, seperti apa pasangan hidup nanti, berapa banyak anak yang dihasilkan, apa jenis kendaraan yang diinginkan, rumah sebesar apa yang didambakan.
Waktu berlalu, mimpi terlewati, ada yang terwujud, tak sedikit yang menguap bersama awan di langit. Lukisan masa depan semakin buram, tak lagi jernih seperti saat pertama ditorehkan di atas kanvas harapan. Ada yang menyesali langkah tak tepat yang pernah ditempuh, ada yang mensyukuri karena tak selamanya apa yang dianggap benar, benar pula menurut Sang Maha Berkehendak.
Kita memang tak pernah bisa tahu yang akan terjadi besok, tetapi kita pernah punya masa lalu yang telah banyak memberi pengajaran. Kita pernah jatuh, terpuruk, sedih, bahagia, manis, pahit, terbang, menangis, tertawa, sendiri, bersama, di masa lalu. Sedangkan masa depan, kita hanya bisa mengukirnya di dalam bingkai mimpi, hanya bisa mengira, merencana dan merekayasa. Justru karena itulah, kita mesti belajar dari masa lalu. Karena masa lalu telah pernah mengajarkan semuanya. Bercermin dari masa lalu, agar rencana dan rekayasa untuk mimpi masa datang lebih mendekati kenyataan
Mimpi oh mimpi...
Ketika aku merasa mimpiku tak akan terwujud dan jadi kenyataan maka aku akan memilih bangun dan pergi dari mimpiku. Kembali menjalani hidup, untuk menemukan mimpi yang baru. Karena dengan mimpi kita akan bersemangat menjalani hidup, berusaha maksimal untuk mencapainya dengan iringan doa, senyum, keringat, bahkan air mata.
Ternyata aku lebih bijaksana
Kejadian hari ini sungguh menyebalkan,,, uh
Ada seorang berteriak-teriak di depanku, padahal jarak kami hanya satu meter!!!
Yang jelas aku tidak terima diperlakukan seperti itu!!! Penghargaanku kepadanya hilang 100%. Orangtuaku yang paling kuhormati saja tidak pernah melakukan itu padaku. Lantas siapakah dia??? Yang berani berteriak dan membuatku malu. Apakah dia punya hak untuk melakukan itu???
Jadi teringat cerita ini...
Suatu hari sang guru berdialog dengan murid-muridnya,
Guru :
"Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?"
Murid :
"Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak."
Guru :
"Tapi... lawan bicaranya justru berada disampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"
Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan.
Guru :
"Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi. Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian? Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."
Guru : "Ketika anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu anda."
Kata-kata terakhir guru tadi membenarkan tindakanku waktu itu. Aku yang merasa tidak punya salah hanya diam membisu dan akhirnya pergi, karena pembelaankupun diacuhkannya. Ternyata yang kulakukan lebih bijaksana :)
Cinta Terakhir
Ketika kuhubungi adikku dihari ulang tahunnya
Terdengar suara nyanyian merdu di telingaku,
liriknya sungguh penuh arti.
Selamat yach...
Sedalam samudra t’lah aku selami
Setinggi langit diangkasa t’lah ku arungi
Sepanjang kehidupanku aku mencari
Sebentuk kelembutan hati cinta sejati
Kini usai udah segala penantian panjangku
Setelah temukan dirimu duhai kekasihku
Hanya dihatimu akan kulabuhkan hidupku
Karena kau lah cinta terakhir ku
Berjuta kejora terangi gelap malamku
Tetap tak seindah cahaya mata hatimu