Wednesday, August 08, 2007

Indahnya Memberi, Seindah Cinta

Memberi itu indah. Memberi itu ekpresi cinta. Memberi itu air mata ketulusan. Memberi itu sebuah pengorbanan dan keikhlasan. Memberi itu sebuah kekayaan.

Memberi itu indah, seindah sungai-sungai cantik di surga dan tenangnya hati ketika bermunajat pada Rabb Semesta Alam. Bagaimana tidak, ketika Allah menjanjikan, "Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah sebaik-baik Pemberi Rizki." (QS. 34:39).

Kemudian Allah memberi kabar gembira kepada orang-orang yang mau berjihad dengan harta dan jiwa bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa dan di masukkan ke Jannah-Nya yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. "Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. " (Qs. 61:10-12)

Keindahan yang hadir tidak dapat diekspresikan dengan untaian kata, ia adalah abstrak, hadirnya di sini... Dihati dan relung jiwa...Ia adalah ungkapan syukur dan gejolak cinta pada sesama...

Memberi itu ekspresi cinta. Cinta itu indah. Keindahan itu hadir karena adanya rasa saling sayang dan memberikan yang terbaik. Ya... Memberi adalah ekspresi cinta. Ada apa dengan cinta...? Ah... Tidak ada apa-apa dengan cinta...

Ketika seorang ibu dan ayah, dengan susah-payah, bermodalkan peluh, malu dan doa, rela bekerja siang malam, sampai di ujung masa klimaks ikhtiarnya tak kunjung hadir apa yang diusahakannya, akhirnya meminjam pada tetangga, kerabat atau perusahaan, karena berusaha memberikan apa yang dibutuhkan buah hati penyejuk jiwa. Itulah cinta...

Ketika seorang suami, bekerja keras siang dan malam, karena hanya satu tekad yang hadir dalam dirinya bahwa ia harus menjaga dan memenuhi hak sang penyejuk hati, menjaganya dari kajahatan tangan-tangan jahil, demi menunaikan amanah Allah. Itulah cinta...

Ketika seorang isteri, rela menjadi pelepas lelah belahan jiwanya dan menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkannya, memberikan kasih sayangnya. Itulah cinta...

Ketika seorang Abdurrahman bin `Auf rela memberikan 700 kendaraan hartanya kepada fakir miskin di Madinah. Itulah cinta...

Cinta begitu sulit digambarkan dengan kata-kata...Ia adalah abstrak.namun ia adalah nyata dengan ekspresi sikap. Dan... Memberi itu adalah cinta....

Memberi itu pengorbanan dan keikhlasan. Ketika seorang sahabat, meskipun sulit, tetap berusaha keras membantu kesulitan saudaranya... Karena ia yakin barangsiapa yang memudahkan urusan saudaranya, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia maupun diakhirat.

Ketika seorang ibu, rela tidur tengah malam karena membuat baju untuk anaknya, mempersiapkan pernak pernik kebutuhan suami dan anak untuk pagi hari, tanpa mengharapkan apa-apa selain senyum manis dari yang disayanginya dan ridho Allah.

Ketika seorang ibu menahan sakit dan mempertaruhkan nyawa demi hadirnya sang buah hati dengan selamat dalam sebuah pejuangan proses persalinan.

Memberi itu air mata ketulusan. Ketika seorang ibu, menitikkan air mata karena dapat membelikan baju dan sepatu baru untuk sekolah sang buah hati....

Ketika seorang relawan menitikkan air mata karena dapat berbuat sesuatu bagi saudaranya yang kesulitan...

Ketika seorang dermawan menitikkan air mata melihat wajah sumringah anak-anak yatim ketika mendapat belaian sayang dan "bingkisan syurga..".

Memberi itu sebuah kekayaan... Secara matematika manusia, memberi berarti berkurang jumlah dan modal... Tapi tidak bagi Allah... Memberi adalah kekayaan, tabungan yang semakin bertambah dan bertambah terus... Semakin banyak memberi maka tabungan semakin banyak, kaca hati, jiwa dan harta semakin bersih.

Memberi adalah menanam dan menabung. Menanam dan menabung di dunia, menuai di akhirat.
"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas dan Maha Mengetahui. " (Qs. 2: 261)

Itulah matematika Allah.

Hal itulah yang membuat seorang Abu Bakr ash Shiddiq rela menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah, cukuplah Allah dan Rasul baginya dan keluarganya.Kemudian menyusul Umar bin Khattab yang mengifakkan separuh hartanya di jalan Allah...

Tidak ketinggalan Abdurrahman bin `Auf... Utsman bin Affan, dan banyak lagi teladan kedermawanan sahabat-sahabat Rasulullah...

Itulah indahnya memberi... Semakin kaya dengan memberi; kaya hati, kaya amal dan kaya jiwa.

Masihkah kita menunda-nunda untuk memberi...? Padahal belum tentu usia kita sampai pada rencana-rencana amalan kita...

Monday, July 30, 2007

Nasehat

Iman seorang mukmin akan tampak di saat ia menghadapi ujian. Di saat ia totalitas dalam berdoa, tapi ia belum melihat pengaruh apapun dari doanya. Ketika, ia tetap tidak merubah keinginan dan harapannya, meski sebab-sebab putus asa semakin kuat. Itu semua dilakukan seseorang karena keyakinannya bahwa hanya Allah saja yang paling tahu apa yang lebih maslahat bagi dirinya. Ia yakin bahwa dengan ujian itu, Allah ingin melihat tingkatan kesabaran dan keimanannya. Ia yakin bahwa dengan keadaan itu, Allah menghendaki hatinya menjadi luruh dan pasrah kepada-Nya. Atau, boleh jadi melalui ujian itu, Allah menghendaki dirinya untuk lebih banyak lagi berdoa sehingga ia lebih dekat lagi dengan-Nya melalui doa-doanya. " (Shaidul Khatir, 375)

Jangan pernah berhenti untuk selalu berusaha ikhlas dan tawadhu mengumpulkan butiran-butiran amal dalam setiap fase hidup, karena kelak ia yang akan menjadi kawan kita ketika menemui Rabb Semesta Alam...
Jangan pernah berhenti untuk selalu memohon pada-Nya kembali yang baik dan khusnul khatimah, karena akhir yang baik adalah muara dari kasih sayang Allah. Jangan pernah berhenti untuk selalu berikhtiar, berdoa dan bersabar dalam menjalani hidup sebagai hamba Allah.

Wednesday, June 20, 2007

17 Juni 2007



Setelah pertemuan pertamaku dengan seorang Rusdianto Firmansyah (RF) pada awal April 2007, begitu banyak cerita yang dilalui hingga akhirnya dia datang untuk bertemu dengan mama dan ayah pada Minggu 27 Mei 2007. Inget banget dia dateng dg kemeja putih dan jeans krem. Begitu dipersilahkan masuk, keringat ditubuhnya tak berhenti mengucur hehehe grogi kali ya. 

Setelah mama dan ayah masuk ke ruang tamu berada diantara aq dan mas RF
RF     : "Sebelumnya rusdi terima kasih, ayah dan mama sudah memberikan waktu buat pertemuan ini. Rusdi minta maaf kalo mungkin ada banyak salah. Rusdi kesini mau bilang kalau saya dan dhek heny ingin melanjutkan hubungan kami ke arah yang lebih serius"
Ayah : "Serius yang bagaimana?"
RF     : "Ke jenjang pernikahan?"
Ayah : "Gimana ma?"

Setelah mendengar jawaban dari mama ayahpun menjawab

Ayah : "Semuanya terserah heny, dia yang akan menjalaninya,
kami sebagai orangtua hanya bisa merestui, kami berpesan perbanyaklah berdo'a"

Setelah itu ayah dan mama pergi masuk ke dalam, 
meninggalkan ruang tamu.

Rusdianto duduk terdiam, disebelahku dia tidak bisa berkata apa2. 
Setelah lewat beberapa menit barulah keluar dari kata2
"Rasanya aku ingin berteriak, rasanya bahagia banget. 
Alhamdulillah, makasih ya Alloh"

Hasil dari pertemuan itu akhirnya Minggu, 17 Juni 2007, 
jam 1 siang dia datang untuk melamarku, datang membawa seserahan bersama rombongan yang kira-kira berjumlah 30 orang.  

Alhamdulillah acara pada siang itu berjalan lancar dan sukses. Teman, saudara juga tetangga ikut meramaikan acara tersebut. 
Seneng dech, sekail lagi Kau memberi nikmat yang tak terkira. 
Alhamdulillah...       

Monday, April 02, 2007

AlhamdulillaH...

Terima kasih ya Alloh, jutaan kali kata itu kuucapkan mungkin rasanya masih kurang. Sejak aq pulang dari Jakarta pada 18 Desember 2006 begitu banyak kemudahan dan kenikmatan yang aq dapatkan dariMU.

18 Desember 2006, kutempuh perjalanan menuju Surabaya dengan kereta. Inget banget sore itu jam 4, Jakarta begitu macet, sementara aq harus sampe di stasiun gambir sebelum 18.30 karena kereta yang akan membawaku pulang berangkat pada jam tersebut. Di depan HERO mampang aq berfikir "sepertinya kalo harus menggunakan taxi ke gambir pasti aq ga akan keburu, pasti aq akan terlambat, jalanan Jakarta sore itu begitu penuh sesak dengan kendaraan. Akhirnya kuputuskan untuk naik ojek, untunglah semua barangku sudah aq paketkan.

Sesampai di stasiun 18.10, aq berjalan cepat menuju kereta, alhamdulillah aq ga terlambat. Di dalam kereta kuhubungi kedua ortuku, juga beberapa saudara yang belum sempat kupamiti untuk kepulanganku ke Surabaya.

Sesampai di Surabaya, bahagia sekali bertemu mama, manusia tercinta dalam hidupku. Sejak tanggal 19 Desember 2006 aq berada di Surabaya, cuti panjang menikmati liburan.

Waktu bekerja tlah tiba, 1 Februari 2007. Hanya saja kali ini aq tak lagi bertugas di Jakarta, aq aktif sejak hari itu di biro Surabaya. Tempat baru, suasana baru dan teman-teman baru kudapatkan disini.

1 April 2007, kantorku berpindah dari Jl. Greges 1C ke bank mega Jl. Yos Sudarso no. 17. Alamat baru itu tentu lebih jauh dibandingkan dengan kantor lama jika ditempuh dari rumahku. Tapi tetep Alhamdulillah aq ada di Surabaya, dekat dengan keluargaku, dekat dengan mamaku.




Monday, January 15, 2007

Mengapa harus bersedih

Maha Suci Sang Pencipta dan Pemberi Rizki. Dia memberi rizki kepada semuanya, kepada ulat yang ada di dalam tanah, kepada ikan yang ada di air, kepada burung di udara, kepada semut yang ada di kegelapan. Terlebih kepada kita manusia yang diberi berbagai kelebihan, lalu mengapa harus bersedih?, padahaal Dia menanggung semuanya?

Sunday, December 17, 2006

Aku Pulang

Rencanaku untuk pulang ke tanah kelahiranku, menemui cinta yang sudah empat bulan ditinggalkan rupanya akan segera terwujud. Esok sore, kereta kan membawaku kesana. Sudah terbayang semua kebahagiaan itu hingga mata ini sulit terpejam.

Sesampai disana, kan kupeluk dan kudekap mereka, manusia penuh cinta dan kasih sayang, yang sudah mengharapkan kedatanganku sejak Oktober lalu.

Ma,,,izinkan aku melakukan semuanya, karena sudah lama ini aku tak pernah melakukan apapun untukmu. Semoga ada banyak waktu untuk itu. Selalu bisa membuatmu bahagia...

Saturday, December 16, 2006

Cuti, Bukan Resign

Yach... beginilah hidup, tidak ada yang pernah tau. Naik, turun, jatuh, berdiri, hingga akhirnya berlari dan terbang. Bahagia jika akhirnya aku dapat terbang. Hore!!!

Masih tergambar persis kejadian sore itu, tepatnya Rabu 13 Desember, ketika temans RCD memberikan kejutan dua cake untuk merayakan ulang tahunku yang sudah 10 hari lalu.

Aku pergi mengantarkan potongan kue ke ruang Bpk Kadiv, Mas Iwan sambil membawa surat resign yang sudah kubuat sejak dua hari yang lalu. Beliau memberikan selamat dan ucapan do’a.

Kemudian kusodorkan surat itu, beliau kembali menanyakan alasan serta rencanaku. Setelah kuberikan penjelasan yang sama, akhirnya beliau hanya memberiku izin pulang, cuti, menemui cintaku itu, tanpa mau memberikan tanda tangannya untuk kuresign. Beliau berjanji kembali untuk melakukan yang terbaik. Semoga saja akan terwujud.

Sekedar mengingatkan kejadian awal Oktober lalu, ketika Mama jatuh sakit untuk yang kesekian kalinya, ayah memintaku pulang dan menetap di Surabaya. Permintaan itu bukanlah yang pertama, tetapi sungguh kata-katanya membuatku akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tempat ini.

Akhirnya kusampaikan maksud itu ke bos Agus, dan beliau mengantarkanku ke Bpk Kadiv, Mas Iwan. Waktu itu beliau menawarkan agar aku pindah ke Surabaya, tetapi tidak bisa sesuai keinginanku (November), beliau menjanjikan Desember. Sepanjang waktu penantian itu aku harus belajar. Itulah makanya aku belajar reporter, camera, PA, dll. Mengenal dunia baru selain RCD.

Setelah bulan Desember itu datang, sang cinta selalu menanyakan kepulanganku. Sementara disini tak pernah jelas kapan saat itu datang. Hingga akhirnya membuatku mengambil keputusan untuk pergi...

Sekali lagi, sebagai manusia kita hanya berhak berusaha dan berdo’a. Apapun hasilnya, apapun yang terjadi nanti biar saja. Itu pasti adalah yang tebaik :)